Search again

Kenangan Komuni Pertama

Kamis, 03 September 2009

KISAH KASIH

Pada suatu hari saya bangun pagi-pagi untuk menyaksikan matahari terbit. 
Ah, keindahan ciptaan Tuhan tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Sambil mengagumi, saya memuliakan Tuhan untuk karyaNya yang agung. Sewaktu saya duduk disitu, saya merasakan kehadiran Tuhan bersama saya.
Ia bertanya kepada saya: "Apakah engkau mencintai Aku?"
Saya menjawab: "Tentu saja, Tuhan! Engkau adalah Allah dan Penyelamatku!"
Lalu Ia bertanya: "Jika tubuhmu cacat, apakah engkau masih mau mencintaiAku?"
Saya bingung. Saya memandang ke lengan, tungkai dan bagian tubuhku yang lain, dan heran berapa banyak hal yang saya anggap sudah biasa, akan tak dapat saya lakukan.
Dan saya menjawab: "Akan sangat berat, Tuhan, tetapi aku akan tetap mencintai Engkau"
Kemudian Tuhan berkata: "Jika engkau buta, apakah engkau masih mau mencintai ciptaanKu?"
Bagaimana mungkin saya dapat mencintai sesuatu yang tidak dapat saya lihat?
Lalu saya teringat akan begitu banyak orang buta d idunia dan bagaimana mereka masih tetap mencintai Tuhan dan ciptaanNya.
Karena itu saya menjawab: 
"Sukar untuk memikirkan hal itu, tetapi aku akan tetap mencintai Engkau".
Tuhan kemudian bertanya kepada saya: 
"Jika engkau tuli, apakah engkau masih mau mendengarkan SabdaKu?"
Bagaimana imungkin saya mendengarkan sesuatu bila tuli? Lalu saya mengerti. Mendengarkan sabda Tuhan bukan hanya dengan telinga, tetapi juga dengan hati.
Saya menjawab: "Akan sulit sekali, Tuhan, tetapi aku akan tetap mendengarkan SabdaMu"
Kemudian Tuhan bertanya: 
"Jika engkau bisu, apakah engkau masih mau memuliakan NamaKu?"
Bagaimana mungkin saya memuji tanpa suara? lalu saya terpikir: Tuhan menghendaki kita bernyanyi dari lubuk hati, bagaimanapun bunyinya. Dan memuliakan Tuhan tidak harus selalu dengan nyanyian; saat kita dianiayapun dapat kita ucapkan kata-kata pujian.
Jadi saya menjawab: 
"Biarpun aku bisu, aku akan tetap memuliakan NamaMu"
Lalu Tuhan bertanya: "Apakah engkau sungguh-sungguh mecintai Aku?"
Dengan berani dan tanpa ragu saya menjawab tegas: "Ya. Tuhan! Aku mencintai Engkau, sebab Engkaulah satu-satunya Allah yang benar!"
Saya kira saya menjawab dengan baik, 
tetapi..............

Tuhan bertanya:
"LALU MENGAPA ENGKAU BERBUAT DOSA?"
Saya menjawab: "Sebab aku seorang manusia. Aku tidak sempurna"
"LALU MENGAPA PADA WAKTU TENTERAM ENGKAU MENYIMPANG PALING JAUH?
MENGAPA HANYA BILA SUSAH ENGKAU BERDOA PALING SUNGGUH-SUNGGUH?"
Tidak ada jawaban. Hanya air mata.

Tuhan melanjutkan:
"Mengapa Bernyanyi hanya pada waktu berdoa bersama dan retret?
Mengapa mencari Aku hanya pada waktu ibadat?
Mengapa memohon sesuatu dengan begitu mementingkan diri sendiri?
Mengapa memohon sesuatu dengan begitu tidak tepat?"

Air mata mengalir terus ke pipi saya.
Mengapa engkau malu akan Aku?
Mengapa engkau tidak menyebarluaskan Kabar Gembira?
Mengapa pada waktu dianiaya engkau menangis kepada orang lain, sementara Aku menawarkan pundakKu sebagai tempat menangis?
Mengapa mengemukakan berbagai macam alasan sewaktu Aku memberi kesempatan kepadamu untuk melayani dalam NamaKu?"
Saya berusaha menjawab, tetapi tidak ada jawaban yang dapat saya berikan.
"Engkau telah diberkati dengan kehidupan. Jangan sia-siakan berkat ini. 
Aku telah menganugerahkan bakat untuk melayaniKu, namun engkau menolak.
Aku telah mengungkapkan sabdaKu, namun pengetahuanmu tidak bertambah. Aku telah berfirman kepadamu, namun engkau menutup telingamu.
Aku telah memperlihatkan berkat-berkatKu, namun engkau membuang muka.
Aku telah mengirim pelayan-pelayan, namun engkau membiarkan mereka diusir.
Aku telah mendengarkan doa-doamu dan Aku telah menjawab semuanya"

"APAKAH ENGKAU SUNGGUH-SUNGGUH MENCINTAI AKU?"
Saya tidak dapat menjawab. Bagaimana mungkin saya dapat? Saya malu tak terhingga.
Saya tidak punya alasan. Apa yang dapat saya katakan terhadap ini?
Setelah hatiku menjerit dan air mata mengalir, saya berkata:
"Ampunilah aku, ya Tuhan. Aku tak pantas menjadi anakMu".
Tuhan menjawab: "Itulah rahmatKu, anakKu"
Saya bertanya: "Lantas mengapa Engkau terus-menerus mengampuni aku?
Mengapa Engkau begitu mencintai aku?"
Tuhan menjawab: "Karena engkau adalah ciptaanKu. Engkau adalah anakKu.
Aku tak pernah akan meninggalkanmu"
Bila engkau menangis, Aku akan terharu dan menangis bersamamu.
Bila engkau berteriak kegirangan, Aku akan tertawa bersamamu.
Bila engkau sedih, Aku akan membesarkan hatimu.
Bila engkau jatuh, Aku akan mengangkatmu.
Bila engkau lelah, Aku akan menggendongmu.
Aku akan menyertaimu sampai akhir jaman, dan Aku akan mencintai engkau selama-lamanya"
Tak pernah saya menangis sekeras itu. Bagaimana mungkin hati saya telah begitu dingin?

Bagaimana saya menyakiti Tuhan seperti yang telah saya lakukan?
Saya bertanya kepada Tuhan: "Seberapa besar kasihMu padaku?"
Tuhan membentangkan kedua tanganNya, dan saya melihat bekas-bekas tembusan paku.
Saya bersujud di hadapan KRISTUS, PENYELAMATKU. Dan untuk pertama kalinya saya sungguh-sungguh berdoa.


sumber: kt-ac

CANGKIR CANTIK

Sepasang opa dan oma pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik "Lihat cangkir itu," kata si oma kepada suaminya. "Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si opa.

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara "Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang penjunan dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar. Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop ! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata "belum !" lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop ! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi.

Tapi orang ini berkata "belum !" Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak. Wanita itu berkata "belum!" Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya ! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku.

Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin. Setelah benar-benar dingin seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.

Saudara, seperti inilah Allah membentuk kita. Pada saat Ia membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara bagi Allah untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan Allah. Yak 1 : 2 - 4 "Saudara-saudaraKu, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab kamu tahu bahwa UJIAN terhadap IMANMU menghasilkan KETEKUNAN. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya kamu MENJADI SEMPURNA dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun." Apabila anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Alllah sedang membentuk anda. Bentukan - bentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua proses itu selesai. Anda akan melihat betapa cantiknya Allah membentuk anda.

Tuhan memberkati


BERTEMU DENGAN TUHAN

Beberapa hari yang lampau saya harus bertemu dengan seorang pejabat tinggi di salah satu hotel bintang lima di pusat kota Amsterdam, maka dari itu saya harus melewati daerah kumuh tempat para gelandangan dan pecandu disitu.

Tiba-tiba saya mendengar panggilan "Selamat pagi Tuan!", saya menoleh kebelakang dan saya melihat seorang pengemis tua dengan wajah yang kotor, dekil dan bau alkohol rupanya ia sudah ber-minggu2 tidak mandi. Pakaiannya pun bau dan kotornya sudah tak terlukiskan lagi. Pengemis ini sedang memegang cangkir besar yang berisikan kopi panas. Ia menawarkan kepada saya "Maukah Bapak minum seteguk dari air kopi saya?"

Dalam hati saya jangankan minum dari cangkirnya dekat dengan diapun rasanya sudah muak dan jijik, apalagi kalau melihat kumis dan jangutnya yang masih penuh dengan sisa2 makanan dari kemarin. Disamping itu kalau saya minum dari cangkir bekas dia, jangan2 nanti saya akan ketularan penyakit AIDS?

Logika dan otak saya melarang saya untuk menerima tawaran tsb, tetapi hati nurani saya menganjurkannya: "Percuma lho ke gereja tiap minggu, kalau lho masih mempunyai pikiran dan praduga buruk terhadap orang lain!" Akhirnya saya datang ke pak tua itu dan minum seteguk kopinya, tetapi logika dan pikiran saya berjalan terus. "Apa sih maksud si pak tua ini, menawarkan kopinya kepada saya, jangan2 ia mau minta duit!"

Tetapi saya sudah siap dan ikhlas untuk memberikan uang kepadanya sebagai imbalan dari kopi tsb. Walaupun demikian saya ingin menanyakannya terlebih dahulu: "Kenapa Bapak menawarkan kopi kepada saya?" - "Saya ingin Anda bisa turut menikmatinya, bagaimana enaknya kopi di pagi hari apalagi pada saat dingin seperti sekarang ini." Ketika saya mendengar jawaban tsb saya merasa malu dengan praduga saya terhadap dia. kenyataannya harus belajar dari seorang pemabuk dari seorang gelandangan yang tidak berpendidikan. Walaupun demikian logika saya masih belum mau menyerah, saya masih tetap tidak percaya: - masa sih si pak tua ini tidak ada maunya,
- masa sih si pak tua ini tidak ingin mendapatkan sesuatu imbal balik dari saya,
- masa sih ia mau memberikan seuatu dengan tanpa pamrih,
- apalagi pada saat ini ia lagi membutuhkannya
- pasti ia akan minta uang!

Berdasarkan pemikiran d iatas, akhirnya saya menanyakannya sekali lagi kepada dia "Adakah sesuatu yang bisa saya bantu untuk anda?"
- Pengemis itu menjawab: "Ada!"
- wah betapa senangnya saya ketika mendengar jawaban tsb, sebab dengan demikian saya bisa membuktikan analisa saya yang jitu!
"Apakah anda membutuhkan sesuatu?"
- "Tidak!" jawabnya, "saya hanya ingin dipeluk saja oleh Anda, karena saya sudah tidak mempunyai kawan maupun sanak keluarga lagi." jawab pengemis tsb.

Saya kaget mendengar jawaban yang tak diduga tsb, pertama karena analisa dan praduga saya tidak benar, tetapi lebih daripada itu, bagaimana mungkin saya bisa memeluk seorang gelandangan yang sudah ber-bulan2 tidak mandi sehingga pakaiannya kotor dan bau sekali, apalagi sebentar lagi saya harus bertemu dengan seorang pejabat tinggi, jangan2 pakaian saya akan menjadi bau dan kotor juga. Bahkan "Jangan-jangan bisnis saya bisa gagal nanti!", karena pejabat tinggi itu mungkin akan merasa diremehkan oleh saya, kalau saya datang menemuinya dengan pakaian kotor dan bau!

Tetapi entah kenapa, tanpa saya bisa dan mau berfikir lebih lanjut, saya langsung memeluk pak tua pengemis tsb dengan erat, seperti saya memeluk putera saya sendiri. Tanpa saya sadari kejadian tsb disaksikan oleh banyak orang disekitarnya, yang merasa aneh dan janggal melihat seorang yang berpakaian lengkap dengan dasi dan jas mau memeluk seorang pengemis tua, yang kotor dan bau, seperti pada saat pertemuan dari dua orang kawan akrab yang telah bertahun-tahun tidak saling berjumpa.

Pada saat saya sedang memeluk pak tua tsb, se-akan2 terdengar suara sayup-sayup yang sangat lembut: "Ketahuilah: waktu kalian melakukan hal itu, sekalipun kepada salah seorang dari saudara-saudara-Ku yang terhina, berarti kalian melakukannya kepada-Ku!" Saya merasa se-akan2 saya telah bertemu dan memeluk Tuhan Yesus pada saat tsb.

Saya telah diundang minum kopi oleh seorang pengemis, tetapi kebalikannya apakah saya bisa dan saya mau mengundang seorang pengemis untuk minum dan makan bersama dengan saya dan keluarga saya? Kita lebih mudah dan lebih ikhlas memberikan uang kepada seorang pengemis daripada mengundang dia untuk turut makan atau minum bersama dengan kita. Apakah Anda pernah mengundang seorang pengemis untuk makan atau minum dirumah Anda?

Berdasarkan pengalaman tsb saya baru sadar bahwa kalau kita mau mencari Tuhan carilah dengan "Kasih", jangan dengan pikiran logika, karena kekuatan dan kuasa kasih ada jauh lebih besar dan lebih kuat dari segala macam logika yang ada di dunia ini. Kalau orang minta bantuan kepada kita gantilah pikiran logika dengan perasaan kasih, karena Tuhan juga mengasihi kita tanpa menggunakan logika.

Bunuhlah perasaan praduga yang ada di dalam diri kita dan hapuslah perkataan "Jangan-jangan" yang ada di dalam kamus kehidupan kita! Ibu saya tidak bisa menulis dan membaca. Ia membesarkan kami anak2nya hanya dengan penuh rasa kasih sayang tanpa segala macam theori physiologi pendidikan, tetapi saya masih bisa merasakan hasilnya sampai dengan detik ini, walaupun setengah abad telah lewat.

When Jesus said, "If you love Me, keep My commandments" (Jn. 14:15), He was giving us the supreme test of our devotion to Him.

Do we pass the test?


TUKANG CUKUR

Pada suatu hari seorang penginjil dan tukang cukur berjalan melalui daerah kumuh disebuah kota. Tukang cukur berkata kepada si penginjil:

"Lihat, inilah sebabnya saya tidak dapat percaya ada Tuhan yang penuh kasih. Jika Tuhan itu baik sebagaimana yang engkau katakan, Ia tidak akan membiarkan semua kemiskinan, penyakit, dan kekumuhan ini. Ia tidak akan membiarkan orang-orang ini terperangkap ketagihan obat dan semua kebiasaan yang merusak watak.

Tidak, saya tidak dapat percaya ada Tuhan yang mengijinkan semua ini terjadi." Penginjil itu diam saja sampai ketika mereka bertemu dengan seseorang yang benar-benar jorok dan bau. Rambutnya panjang dan janggutnya seperti tak tersentuh pisau cukur cukup lama.

Kata penginjil itu : "Anda tidak bisa menjadi seorang tukang cukur yang baik kalau anda membiarkan orang seperti dia hidup tanpa rambut dan janggut yang tak terurus.

Merasa tersinggung, tukang cukur itu menjawab:"Mengapa salahkan aku atas keadaan orang itu? Aku tidak mengubahnya. Ia tidak pernah datang ke tokoku. Saya bisa saja merapikannya dan membuat ia tampak rupawan!"

Sambil melihat dengan tenang kepada tukang cukur itu, penginjil itu berkata:"Karena itu, jangan menyalahkan Tuhan karena membiarkan orang hidup dalam kejahatan, karena Ia terus menerus mengundang mereka untuk datang dan 'dicukur'.

Alasan mengapa orang-orang itu menjadi budak kebiasaan jahat adalah karena mereka menolak Dia yang telah mati untuk menyelamatkan mereka." Tukang cukur itu mengerti maksudnya.

Apakah anda juga?


HIDUP DAN BEKERJA

HIDUP untuk BEKERJA ? Atau BEKERJA untuk HIDUP ?
Kita manusia diberikan talenta yang berbeda-beda, tapi pada dasarnya kita punya modal talenta itu sendiri, maksudnya kita sebenarnya sudah dikasih suatu talenta pada dalam diri kita, yaitu talenta untuk mengembangkannya... talenta untuk berpikir untuk melakukan hidup di dunia ini...
Bagi yg katolik/kristen pasti pernah mendengar / membaca tentang talenta ini kan... yang mana Yesus memberikan perumpamaan tentang talenta tersebut... Dimana ada 3 orang yang diberikan 10 talenta, terus 5 talenta dan 1 talenta, Tuan itu mengatakan untuk menggunakan talenta itu... nah apa yg dilakukan hamba pertama yg mempunyai 10 talenta ? Dia bekerja dan menhasilkan sepuluh talenta lagi sehingga jumlahnya 20, terus hamba yg mempunyai 5 talenta juga begitu..
Apa yg dilakukan hamba yg mempunyai 1 talenta, karena dia tau susahnya untuk bekerja, Tuannya galak dsb... dia jadi malas dan malah takut untuk memulai.. sehingga ia hanya menggali lobang dan menanam talenta itu.. akhirnya pas hari pertanggungjawaban.. Tuan itu memanggil ketiganya dan menanyai semuanya... alhasil Tuan itu memuji hamba pertama dan kedua tetapi ia mengambil talenta dari hamba ketiga dan memeberikannya kepada hamba pertama yg berhasil menggandakan talentanya... sedangkan hamba ketiga diusir olehnya...
Dari renungan ini, sebenarnya kita semuanya mempunyai 5 talenta pada dasarnya.. 5 talenta itu untuk mengembangkan apakah kita bisa untuk menjadi 10 talenta dan apakah kita malah menjadi 1 talenta...
Talenta itu apa ?
Apakah kemampuan ? bakat ? karunia ?
Menurut saya itu bisa benar semua, tapi saya menganggap bahwa Talenta itu adalah IMAN...
Kalau ditanya apakah anda HIDUP untuk BEKERJA ? Atau BEKERJA untuk HIDUP ? Apakah arti Hidup itu bagi anda ?
Apakah anda Hidup hanya untuk menjalani apa yang ada ? tidak mengembangkan apa yg harusnya anda kembangkan, apakah anda hanya mulai dengan ketakutan, malas, tidak mau mencoba, terlalu berpikir, takut karena alasan yang aneh aneh ?
Dengan tujuan toh akhirnya mati dan anda berpikiran aku dulu dilahirkan didunia ini dengan kemampuan begini, mana mungkin aku bisa berkembang, jadi buat apa aku bersusah susah meningan aku mati sama seperti aku dilahirkan ? Kan sama juga, tidak membawa apa apa ?
Renungkan apakah tujuan HIDUP anda ?
Sekarang Kalau anda HIDUP didunia ini itu berarti anda harus menggunakan segala sesuatu yang ada pada diri anda agar dapat bertahan HIDUP... agar anda bisa menghasilkan... agar apa yg diberikan kepada anda, anda bisa gunakan buat diri anda dan lebih baik buat orang lain.... Dengan BEKERJA anda bisa bertahan HIDUP dengan begitu anda bisa untuk mengembangkan IMAN saudara didunia ini... Bukan berarti ANDA HIDUP UNTUK BEKERJA...
Bekerja adalah cara anda untuk bertahan hidup, cara anda untuk melaksanakan tugas anda di dunia ini, cara anda untuk mengembangkan talenta (Iman) anda di dunia ini dan ingat tujuan utamanya adalah mengembangkan Iman anda...
Apakah anda mau menjadi orang yang mempunyai 1 talenta ??? anda sendiri yg mempunyai jawaban itu...


SEBUAH KURSI KOSONG

Seorang gadis mengundang pastor Paroki untuk datang ke rumahnya mendoakan ayahnya yang sedang sakit. Pada waktu pastor datang, ia mendapati seorang bapak tua yang sedang berbaring lemah di tempat tidur, dan sebuah kursi kosong di depannya.

“Tentu anda telah menanti saya”, kata si Pastor.

“Tidak, siapakah anda?”, tanya bapak itu.

Pastorpun memperkenalkan diri dan berkata, “Saya melihat kursi kosong ini, saya kira Bapak sudah tahu kalau saya akan datang.”

“Oo, kursi itu,” kata si Bapak, “Maukah anda menutup pintu kamar itu?”

Sambil bertanya-tanya dalam hati, Pastorpun menutup pintu kamar.

“Saya mempunyai sebuah rahasia, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya, bahkan putri tunggal sayapun tidak tahu,” kata si Bapak. “Seumur hidupku saya tidak pernah tahu bagaimana caranya berdoa. Di gereja saya pernah mendengarkan kotbah Pastor tentang bagaimana caranya berdoa, tapi semuanya itu berlalu begitu saja dari kepala saya.”

“Semua cara sudah saya coba, tapi selalu gagal,” lanjut si Bapak, “Sampai pada suatu hari, tepatnya 4 tahun yang lalu, seorang sahabat karib saya mengajari suatu cara yang amat sederhana untuk dapat bercakap-cakap dengan Yesus.”

“Dia mengajari saya begini : duduklah di kursi, letakkan sebuah kursi kosong di depanmu, lalu bayangkan Yesus duduk di atas kursi tersebut. Ini bukan hantuNya lho, karena Ia telah berjanji “akan senantiasa besertamu”, kemudian berbicaralah biasa seperti halnya kamu sedang bercakap-cakap dengan saya saat ini.”

“Sayapun mencoba cara yang diberikan teman saya itu, dan sayapun dapat menikmatinya. Setiap hari saya melakukannya sampai beberapa jam. Semuanya itu saya lakukan secara sembunyi-sembunyi, agar putri saya tidak menganggap saya gila kalau melihat saya bercakap-cakap dengan kursi kosong.”

Si Pastor sangat tersentuh akan cerita Bapak itu, dan memberi dorongan agar si Bapak tetap melanjutkan kebiasaan berdoa tersebut. Setelah berdoa bersama, dan memberinya Sakramen Perminyakan, Pastorpun pulang. Dua hari kemudian, si gadis memberitahu Pastor kalau ayahnya telah meninggal tadi siang.

“Apakah ia meninggal dengan damai?” tanya si Pastor.

“Ya, waktu saya pamit untuk membeli beberapa keperluan ke toko siang itu, ayah memanggil saya dan mengatakan bahwa ia sangat mencintai saya, lalu mencium kedua pipi saya. Satu jam kemudian, pada waktu saya pulang dari berbelanja, saya mendapati ayah sudah meninggal.”

“Tapi ada suatu kejadian yang aneh waktu ayah meninggal. Ia meninggal dalam posisi duduk di atas tempat tidur dengan kepala tersandar pada kursi kosong yang ada di sebelah tempat tidur.

Bagaimana pendapat Pastor?”

Sambil mengusap air matanya, Pastorpun berkata, “Saya berharap kita semua kelak dapat meninggal dengan cara itu.”


Rabu, 02 September 2009

ILUSTRASI SALIB

Ada 3 orang; A, B ,dan C di beri tugas oleh Tuhan untuk memikul salib yang sama besar dan sangat berat menuju puncak sebuah bukit. Di sana Tuhan berjanji akan menjemput mereka ke Surga.

Di tengah jalan ketiga orang itu melihat sebuah gergaji, si B mulai berpikir dan menghasut kedua temannya untuk memotong salib mereka supaya salib itu menjadi ringan. Namun kedua temannya tidak menuruti usul si B karena mereka taat dan mengasihi Tuhan. Kasih mereka kepada Tuhan membuat mereka mau dan rela memikul tanggung jawab yang Tuhan sudah berikan tanpa keluhan. Singkat cerita si B memotong salibnya, shg dengan mudah ia mendahului kedua temannya.

Sampai dipuncak bukit, si B melihat sebuah jurang yang teramat lebar memisahkan puncak bukit itu dengan gerbang Surga. Di seberang jurang terlihat malaikat Tuhan yang sudah menanti kedatangan mereka. Dengan bersemangat si B menanyakan jalan mana yang bisa dipakainya untuk sampai ke gerbang Surga, tapi malaikat Tuhan itu menjawab, "Tuhan sudah sediakan jalan itu". Si B sangat bingung karena dia samasekali tidak melihat jalan yang dimaksud sang malaikat Tuhan.

Beberapa saat kemudian, si A dan C tiba di puncak bukit tersebut. Seperti halnya si B, mereka bertanya ttg jalan ke seberang pada malaikat Tuhan, mereka mendapatkan jawaban yang sama, "Tuhan sudah menyediakan jalan itu". Kemudian Roh Kudus bukakan pikiran mereka berdua dan mereka mengerti sesuatu, ukuran salib yang berat dan besar itu sudah Tuhan buat tepat sama dengan jarak antara puncak bukit dan gerbang Surga, itulah jalan yang Tuhan sudah sediakan. Mereka segera sadar akan hal itu dan bergegas meletakkan salib mereka dan mulai menyeberang. Si B kebingungan karena salib yang Tuhan beri untuk dia sudah dia potong hingga tidak bisa berfungsi sebagai jembatan. Namun dipikirnya dia dapat meminjam salib A atau C untuk menyeberang. Tapi sungguh kasihan, begitu A dan C selesai menyeberang dengan salib mereka, salib itu tiba-tiba menghilang, itu berarti si B tidak dapat menyeberang ke pintu Surga.....

Renungan.....
Lewat ilustrasi ini, ditunjukkan bahwa seringkali kita menganggap Tuhan begitu kejam mengijinkan "salib" itu ada dalam hidup kita, kita juga sering mengeluh karena sepertinya pemrosesan [yang pahit] itu tidak kunjung selesai. Akibatnya kita terlalu sering mencari jalan keluar sendiri dan tidak mau taat pada Tuhan, sehingga memotong salib yang seharusnya kita pikul. Namun, justru "salib" itulah yang akan menolong kita mengerti akan kasih Tuhan pada kita. Ia ijinkan kita mengalami pemrosesan yang sulit supaya kita menjadi semakin sempurna.

"........ karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." Ibrani 12:6

"Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya." "Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya." Ibrani 12:10,11

ANDA PASTI BERHARGA

Suatu ketika, ada seorang pembicara memulai kotbahnya dengan mengeluarkan selembar uang seratus ribu yang baru. Trus dia bertanya "Siapa diantara kamu yang mau uang ini?"

Langsung aja pada mengangkat tangannya, banyak banget. Katanya lagi " Oke deh, ini bakal saya kasih, tapi sebelumnya biar saya melakukan hal ini". Si pembicara ngeremes uang kertas seratus ribu itu, jadi cuma sekuntel doang. Trus dia buka lagi ke bentuk semula : lembaran seratus ribu, tapi udah kucel banget. Lalu dia tanya " Siapa yang masih mau uang ini?" Tetep aja pada angkat tangan, sebanyak yang tadi.

"Oke, akan saya kasih, tapi biarkan saya melakukan hal ini". Dia ngejatuhin lembaran uang itu ke lantai, trus diinjek-injek pake sepatunya yang habis jalan di tanah becek sampe nggak karuan bentuknya. Dia tanya lagi" siapa yang masih mau?" Tangan-tangan masih aja terangkat. Masih sebanyak tadi.

"Nah, saudara-saudaraku, sebenernya kita udah mengambil satu nilai yang sangat berharga dari peristiwa tadi. Kamu semua masih mau uang ini walau bentuknya udah nggak karuan lagi. Udah jelek, kotor, lecek... tapi nilainya nggak berkurang : tetep seratus ribu rupiah.

Sama seperti kita. Walau kamu udah jatuh, tertimpa tangga pula... atau kamu gagal, nggak berdaya, terhimpit, atau dalam keadaan apapun, kamu tetep nggak kehilangan nilaimu..... karena kamu begitu berharga. Jangan biarkan kekecewaan, ketakutanmu menghancurkan kamu, harapanmu, atau cita-citamu. " Kamu akan selalu tetap berharga, Di mata Tuhan"



HATI YANG SEMPURNA

Pada suatu hari, seorang pemuda berdiri di tengah kota dan menyatakan bahwa dialah pemilik hati yang terindah yang ada di kota itu. Banyak orang kemudian berkumpul dan mereka semua mengagumi hati pemuda itu, karena memang benar-benar sempurna. Tidak ada satu cacat atau goresan sedikitpun di hati pemuda itu.

Pemuda itu sangat bangga dan mulai menyombongkan hatinya yang indah. Tiba-tiba, seorang lelaki tua menyeruak dari kerumunan, tampil ke depan dan berkata " Mengapa hatimu masih belum seindah hatiku ?". Kerumunan orang-orang dan pemuda itu melihat pada hati pak tua itu. Hati pak tua itu berdegup dengan kuatnya, namun penuh dengan bekas luka, dimana ada bekas potongan hati yang diambil dan ada potongan yang lain ditempatkan di situ;namun tidak benar-benar pas dan ada sisi-sisi potongan yang tidak rata.

Bahkan, ada bagian-bagian yang berlubang karena dicungkil dan tidak ditutup kembali. Orang-orang itu tercengang dan berpikir, bagaimana mungkin pak tua itu mengatakan bahwa hatinya lebih indah ? Pemuda itu melihat kepada pak tua itu, memperhatikan hati yang dimilikinya dan tertawa " Anda pasti bercanda, pak tua", katanya, "bandingkan hatimu dengan hatiku, hatiku sangatlah sempurna sedangkan hatimu tak lebih dari kumpulan bekas luka dan cabikan".

" Ya", kata pak tua itu, " hatimu kelihatan sangat sempurna meski demikian aku tak akan menukar hatiku dengan hatimu. Lihatlah, setiap bekas luka ini adalah tanda dari orang-orang yang kepadanya kuberikan kasihku, aku menyobek sebagian dari hatiku untuk kuberikan kepada mereka, dan seringkali mereka juga memberikan sesobek hati mereka untuk menutup kembali sobekan yang kuberikan.

Namun karena setiap sobekan itu tidaklah sama, ada bagian-bagian yang kasar, yang sangat aku hargai, karena itu mengingatkanku akan cinta kasih yang telah bersama-sama kami bagikan. Adakalanya, aku memberikan potongan hatiku begitu saja dan orang yang kuberi itu tidak membalas dengan memberikan potongan hatinya.
Hal itulah yang meninggalkan lubang-lubang sobekan - - memberikan cinta kasih adalah suatu kesempatan. Meskipun bekas cabikan itu menyakitkan, mereka tetap terbuka, hal itu mengingatkanku akan cinta kasihku pada orang-orang itu, dan aku berharap, suatu ketika nanti mereka akan kembali dan mengisi lubang-lubang itu. Sekarang, tahukah engkau keindahan hati yang sesungguhnya itu ?"

Pemuda itu berdiri membisu dan airmata mulai mengalir di pipinya. Dia berjalan ke arah pak tua itu, menggapai hatinya yang begitu muda dan indah, dan merobeknya sepotong. Pemuda itu memberikan robekan hatinya kepada pak tua dengan tangan-tangan yang gemetar. Pak tua itu menerima pemberian itu, menaruhnya di hatinya dan kemudian mengambil sesobek dari hatinya yang sudah amat tua dan penuh luka, kemudian menempatkannya untuk menutup luka di hati pemuda itu. Sobekan itu pas, tetapi tidak sempurna, karena ada sisi-sisi yang tidak sama rata. Pemuda itu melihat kedalam hatinya, yang tidak lagi sempurna tetapi kini lebih indah dari sebelumnya, karena cinta kasih dari pak tua itu telah mengalir kedalamnya. Mereka berdua kemudian berpelukan dan berjalan beriringan.


Film Ahir Jaman - Sakramen Tobat

Dua sisi Kehidupan